Sedekah Bumi Wujud Rasa Syukur Kepada Tuhan YME

Sedekah Bumi adalah salah satu upacara tradisional untuk mengungkapkan rasa syukur kepada Sang Pencipta. Upacara ini masih banyak kita jumpai pada masyarakat Desa Semedo Kecamatan Pekuncen, yang kehidupannya ditopang sebagian besar dari hasil bumi. Upacara Sedekah Bumi ini menjadi sarana ucapan terima kasih warga setempat kepada Tuhan Yang Maha Esa atas segala karunia yang diberikan. Seluruh penduduk berkumpul dengan penuh suka cita untuk mengungkapkan rasa terima kasih mereka melalui berbagai kegiatan ritual keagamaan dan pesta rakyat.

Kegiatan ritual dilaksanakan dengan berdoa kepada Tuhan Yang Maha Esa berupa bacaan tahlil. Setelah itu, masyarakat makan bersama dengan menu makanan khas sedekah bumi berupa nasi tumpeng, nasi penggel, kupat kepel (ketupat yang berbentuk mirip kepal tangan), lepet (nasi ketan yang dibungkus dengan daun bambu), bubur merah dan bubur putih yang memperlambangkan tentang kekuatan manusia yang terdiri dari darah merah dan darah putih, dan yang tidak ketinggalan adalah lauk hasil sembelihan berupa daging kambing / kerbau / sapi.

Bagi masyarakat Jawa khususnya para kaum petani, tradisi sedekah bumi bukan sekedar rutinitas atau ritual yang sifatnya tahunan. Akan tetapi, tradisi sedekah bumi mempunyai makna yang mendalam. Selain mengajarkan rasa syukur, tradisi sedekah bumi juga mengajarkan pada kita bahwa manusia harus hidup harmonis dengan alam semesta

Konsep sedekah bumi adalah menunjukkan rasa syukur atas rezeki dan nikmat yang diberikan Alloh SWT melalui bumi. Selain itu, nilai gotong royong dan kebersamaan juga merupakan nilai positif yang terdapat dalam tradisi tersebut. Melalui tradisi tersebut dapat diambil pelajaran supaya kita lebih cinta terhadap alam dengan menjaga keutuhan dan kelestarian alam. Tujuan sedekah bumi adalah berdoa untuk memohon keselamatan dan elalu diberi keberkahan.

Ketua Lembaga Adat Desa Semedo, Suwarno mengatakan, “Saya sangat berharap supaya tradisi warisan nenek moyang untuk dapat dijaga dan dilestarikan, karena tradisi ini merupakan aset budaya yang harus diketahui oleh generasi ita selanjutnya” ungkapnya penuh harap.

Facebook Comments

Jadi yang Pertama Berkomentar

Tinggalkan Balasan